Khutbah Arafah Haji 1438 H

By KBIH Assalamah / 2017-09-03 05:33:40 / 531 Read
Khutbah Arafah Haji 1438 H

Syekh Syatsri : Agama Islam Sangat Menekankan Pentingnya Keamanan dan Stabilitas Masyarakat Agar Kehidupan Bisa Berkembang

Sejumlah besar jamaah haji mulai dini hari berdatangan ke Masjid Namirah yang ada di Arafah. Mereka mendirikan shalat Zuhur dan Asar dengan di-jama’ dan di-qashar. Praktik ini meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw. Mereka mendengarkan khutbah Arafah.

Masjid seluas 110.000 m2 dan halaman sekitar 8.000 m2 dipenuhi jamaah haji.

Pangeran Khalid Faisal, Penasihat Penjaga Dua Kota Suci sekaligus Gubernur Makkah dan Ketua Komite Haji Pusat serta Grand-Mufti yang sekaligus Ketua Dewan Ulama Senior Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Al Syekh berada di barisan depan dari para jamaah shalat tersebut. Sedangkan khutbah Arafah sebelum shalat disampaikan oleh Syekh Dr. Saad bin Nasser Syatsri , Penasehat Dewan Kerajaan dan anggota Masjlis Ulama Arab Saudi.

 

 Khutbah Arafah dimulai dengan memuji Allah atas segala nikmat dari-Nya, diantaranya nikmat pertemuan agung di tanah suci, Arafah. Syekh Syatsri  mengajak jamaah untuk bertakwa kepada Allah dan komitmen menjalankan syariat-Nya serta meninggalkan larangan-Nya. Itulah jalan mendapatkan cinta Allah dan anugerah keberuntungan di dunia dan akhirat. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. at-Taubah: 4). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air”. (QS. adz-Dzariyat: 15). “Barangsiapa yang bertakwa, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya.” (QS. ath-Thalaq: 2). Di antara bukti ketakwaan adalah berpegang pada perkara paling agung yang diperintahkan oleh Allah, yaitu mentauhidkan Allah. Seorang hamba wajib mengesakan Allah. Doa dan shalatnya hanya untuk Allah. “Maka shalatlah dan berkurban.” (QS. al-Kautsar: 2).

Mentauhidkan Allah adalah inti dari semua agama yang dibawa para rasul. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56)

Makna tauhid adalah penegasan diri bahwa tiada sesembahan selain Allah. Hanya Allah yang haqq untuk disembah. “Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.” (QS. al-An’am : 102). Sedangkan syahadat yang kedua yang menjadi kunci keselamatan dan keberuntungan adalah kesaksian diri bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah utusan Allah. Nabi Saw. diutus Allah untuk membawa petunjuk kepada semua makhluk. Beliau diberikan wahyu di mana semua hamba harus membenarkan dan mengamalkan segala perintah Allah. “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (QS. an-Najm : 1-5)

Jalan keselamatan dan keberuntungan menuju surga adalah beriman kepada Allah. “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (QS. an-Nisa’ : 175). “Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi …. (QS. al-Baqarah : 177). “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. an-Nisa’ : 136)

Rasulullah Saw menyebutkan rukun Islam. Beliau bersabda bahwa rukun Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji bila mampu. Umat Islam harus selalu memperhatikan shalat. Shalat adalah penghubung antara hamba dan Tuhannya. Nabi Saw. bersabda: “Jika seseorang di antara kalian dalam shalatnya, maka sesungguhnya dia sedang memuji Tuhannya.” Allah berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.” (QS. al-Baqarah : 45)

Sedangkan perintah berzakat selalu menyertai perintah shalat dalam al-Qur’an. Mengeluarkan harta yang menjadi hak fakir miskin itu bisa membersihkan jiwa. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah : 5)

Syekh Syatsri  menjelaskan bahwa rukun Islam kelima adalah berpuasa Ramadhan. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. al-Baqarah : 185)

Syekh Syatsri  menjelaskan rukun Islam yang kelima adalah berhaji. “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97). Rasulullah Saw. berhaji pada tahun ke-10 hijriyah. Pada saat hari Arafah, turunlah wahyu: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah : 2). Oleh karena itu, agama Allah telah sempurna. Demikian juga syariat-Nya yang berisi berbagai keutamaan dan keluhuran.

Di antara kemuliaan Islam adalah mendorong manusia gotong-royong dan bekerjasama dalam kebaikan. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah : 3). “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran : 103)

Kemuliaan Islam yang lain adalah mendorong manusia yang beriman untuk berakhlak yang mulia, diantaranya dengan berkata-kata yang baik “Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).” (QS. Al-Isra’ : 53) dan bersikap yang lemah lembut: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran : 159). Allah memerintahkan agar manusia yang beriman mengikuti Nabi Saw. Beliau mengajarkan bahwa yang membedakan orang yang beriman dengan orang munafik adalah pada kejujuran dan penunaian terhadap janji.

Di antara kemuliaan Islam adalah bahwa Islam menjadi kebaikan dan rahmat bagi seluruh makhluk. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’ : 107). Islam mengajarkan keadilan dan memberikan segala sesuatu kepada yang berhak. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl : 90). Islam juga memberikan pedoman bagaimana menata kehidupan menjadi yang terbaik. “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. al-Isra’ : 9)

Islam juga memberikan pedoman pengelolaan keluarga yang bisa mendatangkan kebahagiaan suami istri dan keturunan serta menjadikan keluarga pilar pembangun masyarakat. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. ar-Rum : 21)

Di antara kemuliaan lain yang diajarkan oleh Islam adalah berbakti kepada kedua orang tua, pendidikan yang baik bagi keluarga, menjalin silaturrahmi untuk memperkokoh relasi sosial. Allah melarang kita melakukan kemaksiatan dan perbuatan keji. “Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’raf : 33)

Kemuliaan lain yang diajarkan oleh Islam adalah bagaimana Islam memberikan pedoman dalam pengelolaan harta untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Penipuan, memanfaatkan harta orang lain yang bukan haknya, memanfaatkan riba, perjudian, dan lain-lain dilarang. Islam mengajarkan keadilan dan pemenuhan hak kepada yang berhak.

Islam sangat menekankan prinsip keamanan dan stabilitas dalam masyarakat. Hanya dengan keduanya, masyarakat akan bisa berkembang. Dengan keamanan dan stabilitas, maka perdagangan juga akan berkembang, hati akan menemukan kedamaian sehingga bisa beribadah dengan khusyuk. Keamanan dan stabilitas serta bebasnya masyarakat dari kezaliman adalah kenikmatan yang besar dari Allah. “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am : 82). “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” (QS: An-Nur: 55)

Syekh Syatsri menegaskan bahwa seorang muslim harus mampu memberikan kontribusi keamanan di mana pun dia berada. Jangan sampai seorang muslim melakukan sesuatu yang melampaui batas. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Maidah : 87). Seorang muslim tidak akan berani melakukan kezaliman kepada sesama atau bahkan menumpahkan darah sesama manusia, jika dia mengindahkan firman Allah. Seorang yang beriman yang sesungguhnya pasti memenuhi janji. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. al-Maidah : 1)

Seorang muslim yang sejati pasti konsisten berpegang pada perintah Allah untuk taat kepada ulil amri. Pemerintah lah yang menata peraturan umum untuk stabilitas dan keamanan bangsa dan negara. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. an-Nisa’ : 59)

Seorang muslim harus berani melawan siapapun yang mengganggu keamanan bangsa dan negaranya, baik itu dari umat Islam sendiri ataupun yang lain. Dia harus berani melawan kelompok-kelompok teroris yang mengganggu keamanan dan stabilitas. Syariat Islam datang membawa ajaran tentang keamanan dan stabilitas dalam segala bidang, baik keamanan akidah atau keyakinan, keamanan berpikir, keamanan politik, keamanan berakhlak, dan lain-lain. Islam datang membawa ajaran agar menjaga keamanan bangsa dan negara. Islam membawa ajaran agar setiap pribadi gemar melakukan kebaikan dengan menebar kasih sayang, mampu mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Rasa iri adalah akhlak yang buruk. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an-Nisa’ : 32)

Syariat Islam mengajarkan agar setiap muslim bisa menebarkan keamanan, kedamaian, dan stabilitas di seluruh dunia. Syariat menegaskan adanya kedamaian dan keamanan di tanah suci ini. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.” (QS. Ali Imran : 96-97). “Dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?” (QS. al-Ankabut : 67)

Allah memberikan rasa aman dan kedamaian di tanah suci, kota Makkah dan Madinah. Semoga Allah juga memberikan keamanan dan kedamaian di Masjidil Aqsha. Semoga Allah menjaga penduduk Palestina dan memberikan mereka keamanan, kesejahteraan hidup, dan dikembalikan hak-hak mereka. 

Syekh Syatsri menjelaskan bahwa umat Islam jangan sampai terjebak dan terperosok dalam kejahiliyahan. Kejahiliyahan banyak sekali bentuknya. Ada kejahiliyahan berupa fanatisme buta, diskriminatif dengan sesama manusia, berbangga diri karena keturunan atau nenek moyang, dan lain-lain. “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.“ (QS. al-Baqarah : 200)

Oleh sebab itu, musim haji jangan sampai dijadikan sarana menghidupkan tradisi kejahiliyahan, yaitu menjadikan haji sebagai sarana propaganda ataupun agitasi kelompok atau golongan. Haji hanya untuk Allah semata. “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah.” (.QS. al-Baqarah : 196). Haji bukan momen untuk menyebarkan semangat kegolongan, kemazhaban, gerakan sektarianisme, dan lain-lain. Semuanya harus bisa berpegang kepada al-Qur’an. Dengan cara itu, maka semuanya bisa mendapatkan hidayah dan keberuntungan. “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. al-Maidah : 48)

Syekh Syatsri menyerukan kepada ulama agar bisa mengambil istinbath dari al-Qur’an untuk mencari solusi setiap masalah. Al-Qur’an adalah sumber petunjuk yang sempurna. “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)” (QS. an-Nisa : 83)

Syekh Syatsri juga mengajak kepada semuanya agar mendekatkan diri kepada Allah, dengan menyebarkan hukum-hukum al-Qur’an dan berakhlak dengan akhlak al-Qur’an. Para orang tua sangat butuh untuk mempelajari al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an ada hidayah dan ajaran mengenai akhlak yang luhur yang bisa diajarkan kepada anak-anak.

Syekh Syatsri menyerukan kepada para jurnalis agar hanya menyiarkan berita yang baik-baik saja, yang berisi kebaikan dan kemuliaan. Inilah yang juga diserukan oleh al-Qur’an.

Syekh Syatsri mengajar kepada para hartawan agar mendekatkan diri kepada Allah dan bisa memanfaatkan hartanya dengan baik. Diantaranya memanfaatkannya atau menginfakkan hartanya untuk menyebarkan al-Qur’an, menggerakkan umat Islam mencintai, mempelajari, dan mengamalkan al-Qur’an dan lain-lain. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 261)

Di antara petunjuk Nabi Saw. bahwa beliau setelah berkhutbah memerintahkan Bilal untuk adzan. Kemudian beliau mendirikan shalat Zuhur dengan di-qashar menjadi dua rekaat. Lalu berdiri lagi mendirikan shalat Asar dengan di-qashar dua rekaat. Lalu beliau berwuquf di Arafah di atas untanya, berdzikir kepada Allah dan berdoa sampai dengan tenggelamnya matahari. Kemudian beliau pergi menuju Muzdalifah dan berwasiat kepada para sahabat untuk berkasih sayang dengan bersabda, “Wahai orang-orang, kalian harus tenang dan bersahaja. Kebaikan bukanlah dengan tergesa-gesa.” Ketika sampai di Muzdalifah, maka shalat Magrib tiga rekaat dan shalat Isya’ dua rekaat dengan di-jama’ dan di-qashar. Beliau bermalam di Muzdalifah dan shalat Subuh di sana pada waktunya. Kemudian berdoa kepada Allah sampai terbit matahari. Lalu beliau menuju Mina dan melontar jumrah Aqabah dengan tujuh kerikil, menyembelih kurban dan bercukur (tahallul). Kemudian beliau melakukan thawaf Ifadhah. Kemudian beliau kembali ke Mina dan menetap di sana selama hari Tasyriq dengan berzikir kepada Allah dan melontar tiga jumrah setelah tergelincirnya matahari. Beliau berdoa ketika melontar jumrah shugra dan jumrah wustha.

Rasulullah Saw. memberikan keringanan kepada mereka yang berhalangan tidak bisa bermalam di Mina. Rasulullah Saw. memperbolehkan kepada yang tergesa-gesa pada tanggal 12 Dzulhijjah. Yang utama berdiam di Mina sampai dengan 13 Dzulhijjah. Nabi Saw. selesai menjalankan ibadah haji dan ingin ke Madinah, maka terlebih dahulu thawaf di Baitullah.

Syekh Syatsri menyeru kepada jamaah haji agar memanfaatkan hari-hari haji dengan berbagai kebaikan. Memperbanyak berdoa untuk diri sendiri dan orang-orang yang mempunyai hak atas dirinya, juga untuk umat Islam, semoga diperbaiki kondisi mereka.

Pada akhir khutbah, Syekh Syatsri berdoa semoga Allah memberikan petunjuk kepada Penjaga Dua Kota Suci, Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud dan menolongnya dalam kebaikan. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas kebaikan memberikan pelayanan kepada jamaah haji. Semoga Allah memberkahi Putra Mahkota. Dan semoga Allah menerima haji dari para jamaah haji dan mempermudah urusan mereka serta kembali ke tanah air masing-masing dengan selamat. 


Khutbah Arafah Kamis 9/12/1438 H / 31/8/2017 . Masjid Namirah Arafah Arab Saudi